Artikel
Aktivitas, Ekowisata, Kehutanan, Satwa

Migratory Raptors | Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda 2025

Pengamatan raptor migran yang saya lakukan dalam rangka pengambilan data untuk skripsi di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berlangsung selama dua bulan penuh, mulai 1 September hingga 31 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian yang saya inisiasi untuk mendokumentasikan dinamika migrasi musim gugur burung pemangsa di wilayah Jawa Barat. Lokasi Tahura yang berada pada bentang perbukitan Bandung Raya memiliki karakter lanskap yang ideal sebagai titik pantau, karena memungkinkan pengamat memperoleh visibilitas luas terhadap pergerakan raptor yang melintas di ketinggian.

     

Selama periode pengamatan, tercatat lebih dari 2.500 individu raptor migran yang melintas di atas kawasan ini. Spesies yang teridentifikasi terdiri atas Sikep Madu Asia, Elang-alap Tiongkok, dan Elang-alap Nipon. Dengan jumlah individu tertinggi yaitu Elang-alap tiongkok sebanyak 1819 individu, disusul Sikep-madu asia sebanyak 588 individu dan Elang-alap nipon sebanyak 104 individu. Ketiganya merupakan raptor migran yang secara rutin bergerak dari wilayah utara Asia menuju kawasan tropis pada periode ini. Individu-individu tersebut teramati melakukan soaring dengan memanfaatkan arus udara termal sebelum melanjutkan perjalanan ke arah selatan.

Metode pengamatan dilakukan menggunakan teknik vantage point / titik pengamatan strategis (Bibby et.al 2000) dengan pencatatan sistematis setiap hari. Data yang dihimpun meliputi jumlah individu, pola waktu migrasi, arah kedatangan, perilaku terbang saat teramati dan karakteristik habitat tempat bertenggernya raptor. Pendekatan ini memungkinkan analisis pola temporal migrasi serta identifikasi hari-hari dengan intensitas pergerakan tinggi. Konsistensi pengamatan selama dua bulan menjadi kunci dalam memperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait dinamika migrasi.

 

Puncak migrasi tercatat pada tanggal 14 Oktober 2025, di mana terjadi lonjakan signifikan jumlah individu yang melintas dalam satu hari pengamatan sebanyak 666 individu. Fenomena ini menunjukkan adanya gelombang migrasi utama yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor meteorologis seperti arah angin, tekanan udara, dan pembentukan termal yang optimal. Momentum tersebut menjadi data krusial dalam memahami periode kritis migrasi di kawasan Bandung dan memperlihatkan bahwa Tahura Djuanda berada dalam jalur strategis pergerakan raptor. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya di lokasi yang sama, hasil tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pada pengamatan terdahulu, jumlah individu yang tercatat hanya sekitar 800+ individu selama musim migrasi. Peningkatan menjadi 2.500+ individu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk durasi pengamatan yang lebih intensif, perbaikan metode pencatatan, peningkatan kapasitas identifikasi spesies, maupun kemungkinan perubahan pola rute migrasi yang membuat lebih banyak raptor melintas di atas kawasan ini.

Secara keseluruhan, temuan ini memperkuat posisi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda sebagai koridor udara penting bagi raptor migran di Jawa Barat. Lanskap perbukitan dengan mosaik hutan dan ruang terbuka menciptakan kondisi ideal bagi pembentukan arus termal yang mendukung efisiensi energi selama migrasi. Data penelitian ini tidak hanya menjadi kontribusi ilmiah dalam studi migrasi raptor, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya konservasi, pengembangan edukasi publik, serta penguatan peran Tahura Djuanda sebagai lokasi pemantauan raptor jangka panjang dalam konteks keanekaragaman hayati regional.

 

Credit by Naufal Rachmadya Alfiandra – IPB University